Rabu, 07 September 2011 07:33:20
Meneguhkan Jati Diri Keistimewaan Yogyakarta
Rabu, 07 September 2011 07:33:20
Yogyakarta: Pada Senin (5/9) lalu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar serangkaian acara open house di komplek Keraton. Acara open house tersebut diperuntukkan bagi masyarakat umum dan PNS se-DIY. Sejak pagi nampak banyak sekali masyarakat yang telah memadati halaman Pagelaan Keraton Yogyakarta. Mulai dari PNS, mahasiswa/pelajar, pekerja seni, pedagang dan sebagainya. Masyarakat berduyun-duyun rela antri hingga bahkan berdesak-desakan demi untuk mendengarkan pidato dan sungkem langsung dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Open house atau yang dikenal dengan Syawalan Akbar kali ini juga sekaligus merupakan peringatan 66 tahun Amanat 5 September 1945. Yakni peristiwa bergabungnya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam rangkaian acara open house tersebut diawali dengan penyampaian isi amanat rakyat Yogyakarta oleh Ketua DPRD DIY kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X. Amanat rakyat Yogyakarta tersebut berisi dukungan kepada Sri Sultan dan Paku Alam agar tetap memimpin Yogyakarta sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur. Pada intinya masyarakat Yogyakarta akan selalu setia mendukung penetapan.
Dalam pidatonya Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan akan melaksanakan amanat sesuai dengan batas kemampuan yang dimiliki. Beliau juga mengungkapkan bahwa peringatan peristiwa Amanat 5 September 1945 bukan hanya terkait penetapan Sri Sultan dan Paku Alam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur. Namun ada sesuatu yang terselip di balik peristiwa bersejarah tersebut, yakni menunjukkan jati diri masyarakat Yogyakarta yang berjuang untuk Indonesia.
Jati diri masyarakat Yogyakarta tersebut haruslah berpegang pada tiga prinsip yang telah ditanamkan oleh almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pertama, jiwa masyarakat Yogyakarta adalah merah putih. Kedua, kepribadian masyarakat Yogyakarta adalah Pancasila. Ketiga, watak masyarakat Yogyakarta adalah Bhinneka Tunggal Ika. Menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X ketiga prinsip tersebut harus menjadi spirit masyarakat DIY dalam mempertahankan keistimewaan. Akhirnya, sampai kapanpun Jogja memang istimewa. Kepada seluruh masyarakat DIY, mari terus teguhkan keistimewaan tersebut dengan semangat nilai-nilai luhur seperti yang telah diamanahkan almarhum Sri Sultan HB IX. Jogja istimewa untuk Indonesia!
Yogyakarta: Pada Senin (5/9) lalu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar serangkaian acara open house di komplek Keraton. Acara open house tersebut diperuntukkan bagi masyarakat umum dan PNS se-DIY. Sejak pagi nampak banyak sekali masyarakat yang telah memadati halaman Pagelaan Keraton Yogyakarta. Mulai dari PNS, mahasiswa/pelajar, pekerja seni, pedagang dan sebagainya. Masyarakat berduyun-duyun rela antri hingga bahkan berdesak-desakan demi untuk mendengarkan pidato dan sungkem langsung dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Open house atau yang dikenal dengan Syawalan Akbar kali ini juga sekaligus merupakan peringatan 66 tahun Amanat 5 September 1945. Yakni peristiwa bergabungnya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam rangkaian acara open house tersebut diawali dengan penyampaian isi amanat rakyat Yogyakarta oleh Ketua DPRD DIY kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X. Amanat rakyat Yogyakarta tersebut berisi dukungan kepada Sri Sultan dan Paku Alam agar tetap memimpin Yogyakarta sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur. Pada intinya masyarakat Yogyakarta akan selalu setia mendukung penetapan.
Dalam pidatonya Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan akan melaksanakan amanat sesuai dengan batas kemampuan yang dimiliki. Beliau juga mengungkapkan bahwa peringatan peristiwa Amanat 5 September 1945 bukan hanya terkait penetapan Sri Sultan dan Paku Alam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur. Namun ada sesuatu yang terselip di balik peristiwa bersejarah tersebut, yakni menunjukkan jati diri masyarakat Yogyakarta yang berjuang untuk Indonesia.
Jati diri masyarakat Yogyakarta tersebut haruslah berpegang pada tiga prinsip yang telah ditanamkan oleh almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pertama, jiwa masyarakat Yogyakarta adalah merah putih. Kedua, kepribadian masyarakat Yogyakarta adalah Pancasila. Ketiga, watak masyarakat Yogyakarta adalah Bhinneka Tunggal Ika. Menurut Sri Sultan Hamengku Buwono X ketiga prinsip tersebut harus menjadi spirit masyarakat DIY dalam mempertahankan keistimewaan. Akhirnya, sampai kapanpun Jogja memang istimewa. Kepada seluruh masyarakat DIY, mari terus teguhkan keistimewaan tersebut dengan semangat nilai-nilai luhur seperti yang telah diamanahkan almarhum Sri Sultan HB IX. Jogja istimewa untuk Indonesia!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar